Tahun 2009 ini bisa dikatakan tahun ‘meledaknya’ BlackBerry. Saya kurang tahu mengenai 2010, tetapi saya memprediksi tahun 2011 sebagai tahun ‘meledaknya’ Amazon Kindle sebagai sebuah gadget ‘must have’ berikutnya.
Selayaknya menemukan sebuah mainan baru yang sangat menarik, hati saya bergetar ketika Amazon meluncurkan Kindle versi ‘International Wireless’ pada bulan Oktober lalu. Telinga saya seakan dapat mendengar hati saya berkata, “akhirnya datang juga terobosan besar berikutnya dalam teknologi informasi: sebuah ekosistem e-books global yang dipimpin oleh Amazon dengan perangkat Kindle yang cantik.”
Tanpa berpikir panjang, saya menekan tombol Add to Shopping Cart di Amazon untuk memesan sebuah Kindle. Selang beberapa minggu, setelah merasa cukup puas bermain dengannya dan mencoba berbagai keunggulan - dan keterbatasan - yang ia miliki, sayapun merasa siap untuk menuliskan sebuah pernyataan besar mengenai Kindle.
Selayaknya kesuksesan Apple dengan iPod, serta RIM dengan BlackBerry, saya melihat perangkat e-book reader ‘Kindle’ dari Amazon dapat menjadi ‘perangkat sejuta umat’ dalam waktu dua atau tiga tahun mendatang. Sebuah perangkat yang dibawa dan digunakan oleh banyak pelajar, mahasiswa, pencinta buku, pekerja kantoran, dan manusia dari berbagai golongan masyarakat - dan saya memiliki beberapa alasan kuat untuk dapat berani menuliskan demikian.
Kindle Menduplikasi Resep Kesuksesan iTunes Store
Tidak dapat dipungkiri, kesuksesan iPod tidak dapat dilepaskan dari kuatnya jaringan bisnis content yang dibangun oleh Apple dengan iTunes Store. Saat tulisan ini dibuat, iTunes Store sebagai sumber terpadu segala content untuk iPod telah beroperasi di 77 negara dengan koleksi jutaan koleksi lagu, film, podcast, serta aplikasi untuk iPod touch (dan iPhone).
Sebagai toko musik terbesar di dunia, ‘keperkasaan’ iTunes Store dalam menggandeng semua label musik besar dan ribuan promotor musik independen dapat membuat fakta bahwa pengguna iPod tidak dapat membeli content dari penyedia content online alternatif irrelevant. Seperti pepatah “you don’t exist if you’re not on Google”, kita dapat mengatakan sebuah lagu non-existent (tidak ada) jika tidak dijual di iTunes Store.
Walau komoditasnya berbeda, Amazon.com sebagai toko buku terbesar di dunia memiliki kesempatan besar untuk menduplikasi ‘dominasi’ dan resep kesuksesan iTunes Store. Dengan menggunakan Kindle, saya dan anda dapat membeli ratusan ribu judul e-books dan berlangganan koran yang tersedia di Amazon dalam ‘versi Kindle’ dengan harga yang sangat bersahabat (tentunya jika dibandingkan dengan versi cetaknya).
Dengan kerjasama roaming data yang dibantu oleh AT&T, saya dapat menggunakan Kindle ‘International Wireless’ untuk terhubung ke internet, membeli dan mengunduh content yang anda inginkan di 110 negara diseluruh dunia secara wireless. Ya, you read this right, saya dapat berada dijantung kota Surabaya, atau ditengah Kebun Raya Bogor - selama ada sinyal 3G / GPRS dari roaming partner AT&T - saya dapat mendownload novel terbarunya Dan Brown, atau koran New York Times terbaru!
Selayaknya iPod: Cantik, Mudah Digunakan, dan Bandel!
Sebagai seorang Apple fanboy, saya melihat berbagai kualitas yang dimiliki oleh iPod ‘muncul’ di Kindle. Sebagai sebuah perangkat e-book reader, Kindle itu cantik, mudah digunakan, dan bandel.
Pertama, mari kita berbicara mengenai kecantikannya. Mohon maaf apabila ini terbaca seperti sebuah sales pitch - tetapi memang, Kindle memiliki badan yang tipis. Memegang Kindle ditangan terasa tidak jauh berbeda dengan memegang majalah BISKOM ini.
Dengan jumlah tombol yang ‘pas’ dan ‘familiar’, saya rasa siapapun yang sudah terbiasa menggunakan smartphone seperti BlackBerry akan dapat langsung mengoperasikan Kindle. Antarmuka sistim operasi yang digunakan oleh Kindle juga tidak neko-neko, mudah digunakan selayaknya sebuah iPod.
Last but not least, seperti sebuah majalah dan buku pada umumnya, Kindle memiliki konstruksi yang kuat sehingga tidak ringkih. Setelah beberapa lama menggunakannya, saya tidak merasa sayang untuk ‘melempar’ Kindle ke tempat tidur dan tas seperti halnya saya memperlakukan perangkat non-elektronik pada umumnya.
Nyamannya Membaca dengan Layar ‘Kertas’ Kindle
Seperti kebanyakan e-book reader yang ada dipasaran saat ini, Kindle tidak menggunakan layar LCD. Artinya, saya harus berada di ruangan yang memiliki sumber penerangan yang cukup jika ingin membaca teks yang ditampilkan oleh Kindle - ya, selayaknya membaca buku biasa.
Dengan menggunakan layar khusus yang Amazon namakan ‘electronic-ink display technology’, saya dapat membaca teks yang ditampilkan oleh Kindle dengan nyaman di bawah terik matahari sekalipun. Teknologi ini juga dapat menampilkan gambar hitam putih dengan resolusi tinggi - sekali lagi, seperti melihat gambar yang tercetak pada koran biasa.
Satu hal lagi yang membuat Kindle ‘mirip’ dengan buku biasa: daya tahan baterai yang luar biasa. Karena tidak mengeluarkan cahaya, menurut Amazon, Kindle dapat bertahan ‘hidup’ selama 4 hari dengan kondisi wireless aktif, atau 2 minggu dengan kondisi wireless tidak aktif. Dalam kata lain, Kindle dapat bertahan hidup satu bulan penuh tanpa charging dalam kondisi pemakaian sehari-hari.
Ada dua hal yang membuat pengalaman membaca di Kindle berbeda, bahkan lebih nyaman, dibandingkan dengan buku, majalah dan koran ‘biasa’: kemampuan untuk merubah ukuran teks, dan “dibacakannya” teks menggunakan fitur text to speech bawaan Kindle. Tentunya, teks harus dalam bahasa Inggris untuk fitur ini dapat bekerja dengan baik.
The Little Perks: Catatan Kecil yang Menyebalkan
Salah satu alasan saya untuk langsung membeli Kindle ‘International Wireless’ pada saat diluncurkan oleh Amazon adalah kemampuannya untuk menyimpan dan membaca file PDF, HTML, DOC (Microsoft Office), JPEG, PNG dan berbagai file gambar lain. Sebagai mahasiswa yang diwajibkan untuk membaca belasan artikel jurnal akademis setiap minggunya, Kindle akan dapat membantu saya ‘membaca dengan lebih baik lagi’.
Namun, pada hari pertama saya menggunakan Kindle, saya baru menyadari bahwa membaca file PDF atau Word di Kindle tidak bisa asal ‘drag and drop’. Kindle hanya dapat membaca file ber-extension KINDLE (AZW), TXT, MOBI dan PRC - dan jika saya ingin mengirimkan file PDF ke Kindle, saya harus mengirimkan file tersebut ke alamat email Kindle saya, dan membayar biaya roaming data US$ 0.99 per megabyte. Males banget!
Sebagai alternatif, Amazon menawarkan layanan ‘Free Transfer of Personal Documents’ dengan mengirimkan file PDF yang ingin saya kirimkan ke Kindle ke ‘username’@free.kindle.com. Dalam hitungan beberapa detik, Amazon akan mengembalikan file PDF yang saya kirimkan dalam format yang bisa dibaca oleh Kindle. Sekarang saya dapat ‘mendownload’ file tersebut, dan memindahkannya ke Kindle via USB.
Jika memang harus demikian, kenapa Amazon tidak menyediakan aplikasi untuk Windows atau Mac OS yang dapat merubah file PDF menjadi file yang dapat dibaca oleh Kindle? Kenapa harus repot-repot mengirimkan email ke @free.kindle.com? Memang tidak ada gading yang tak retak - tetapi sebagai suatu desain cara kerja yang jelas-jelas bertujuan bisnis data seluler (dengan AT&T), ini adalah sebuah catatan kecil yang menyebalkan.
Pekerjaannya Berikutnya untuk Amazon: Glocalisation!
Walaupun namanya Kindle ‘International Wireless’, tidak lain Kindle generasi terbaru masih merupakan perangkat e-book reader yang ditujukan untuk kalangan ‘orang Amerika’. Selain akses data yang ‘diskriminatif’ diluar Amerika (di Amerika, saya dapat mendownload buku, blog, surfing internet sepuasnya dari Kindle - gratis seumur hidup!), content yang disediakan oleh Amazon juga didominasi oleh content Amerika.
Seperti halnya McDonalds, dan iTunes Store, keseragaman diberbagai belahan dunia itu memang penting. Namun, ‘globalisasi’ content juga harus dibarengi dengan ‘lokalisasi’ agar tercapai hasil yang optimal. Di Indonesia, sebagai contoh, paket penjualan McDonalds harus disertai dengan nasi - inilah contoh ‘glocalisation’.
Hemat saya, kesuksesan Kindle beberapa tahun kedepan akan sangat bergantung pada niat dan usaha Amazon pada glocalisation ini. Bukan tidak mungkin kita akan melihat Amazon.com Indonesia, yang menjual buku-buku asik seperti Perahu Kertas-nya Dee Lestari atau 5cm-nya Donny Dhirgantoro. Mudah-mudahan, jika benar terjadi, hal ini menguntungkan banyak pihak - terutama produsen content lokal. Mari kita nantikan.